HILAL SETITIK RUSAK KETUPAT SEBELANGGA

Mungkin bagi sebagian orang awan sangat membingungkan saat merayakan Idul fitri. Ini tak lepas dari peran pemerintah yang sudah bersusah payah untuk menyamakan persepsi dalam menentukan hari yang fitri ini. Bisa dibayangkan pada sore itu sebagian masjid sudah mengumandangkan takbir, tetapi sebagian lagi kebingungan apa yang harus dilakukan. Masjid warna hijau depan rumahku penuh dengan umat manusia yang kebingungan. Setelah berbuka puasa mereka hanya bisa duduk menunggu sidang isbat yang dilakukan pemerintah.

Lebih lebih mengherankan bagi sebagian kalangan bahwa sidang isbat itu hanya menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Atau memang kita terbiasa membuang anggaran yang sudah ditetapkan sehingga sebuah kebiasaan yang dibenarkan. Padahal sidang tersebut tidak akan merubah keputusan apapun. Oleh karena itu setidaknya perlu dipikirkan kembali untuk penerapan sidang isbat itu. Kalangan awam kadang berfikir mengapa dengan menggunakan metode yang sama dan dapat diprediksi 1 bulan sebelum idul fitri malah membingungkan umat Islam.

Pemerintah dengan menggunakan perhitungannya dapat memprediksi penentuan hari dan tanggal idul fitri yang pada kenyataannya tetap harus menunggu sidang isbat yang nota bene juga tetap tidak merubah hasil keputusan tersebut. Mbo Inah, wanita tua tetangga sebelah rumah hanya duduk termenung menunggu keputusan kapan lebaran itu. Dia merasa heran kok susah banget ya menentukan lebaran, menentukan lebaran tak ubahnya dengan mencari jodoh, ruwet banget. Mbo Inah juga berkata,” Jarena wong kita kuh pinter-pinter kabeh, lah nentunang lebaran bae kangelan.” (katanya orang kita itu pinter-pinter semua, untuk menentukan lebaran saja susah). Apa yang menyebabkan Mbo Inah bingung? Ternyata dia sudah belanja beras, katupat dan lain-lain. Bahkan ketupat sambel goreng sudah matang semua. Bagaimana tidak kecewanya dia. Kalender yang dia dapat teryata warna merah yang terpampang tidak bisa menjadi ukuran untuk bisa berlebaran besok. Masjid hijau dan megah depan rumah tidak terdengar ada kegiatan tarawih, wargapun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan adanya pengunduran waktu lebaran yang ditayangkan jelas diatas waktu normal (ba’da isya). Siapa yang disalahkan, tak ada… Kultur Masyarakat kita sangat baik dan selalu memaafkan segala kesalahan yang dilakukan pemerintah, pemimpin bangsa dan masyarakat kita juga mudah lupa dengan apa yang sudah dilakukan orang yang telah merusak bangsa kita. Kita sangat toleran terhadap keputusan yang terkadang menyesatkan, membingungkan, terkadang kita hanya bisa mendengar lagu ”… ya sudalah…”. Terlebih uniknya lagi Kartono yang jauh-jauh dari Jakarta mudik dengan menggunakan motor.

Motor yang dipergunakan untuk mudik lebaran berciri khas sebagai berikut :

  1. Penumpangnya lebih dari 2 orang
  2. Sebagian menggunakan helm yang lainnya tidak kebagian
  3. Ada tas dibelakang motor tersebut sebagai lebel mudik
  4. Anggota yang ada dikendaraan terdiri ayah, ibu dan 2 orang anak
  5. Menggunakan penutup hidung bagi penumpang bagian depan dan supir
  6. Jaket tebal pelindung dari cuaca
  7. Kacamata hitam sangat berperan, terlebih untuk bergaya
  8. Mereka biasanya bergerombol tidak sendiri-sendiri

Dengan bersusah payah mengejar terget sampai ke kampung halaman dan bisa berlebaran bersama keluarga. Membeli pakaian baru, makanan, kue dan sebagainya. Tapi… mendengar lebaran diundunr dengan waktu yang tidak ditentukan.. (mundur satu hari..) dia sangat kecewa. Bagaimana mungkin dalam satu keluarga kesemuanya berbeda hari. Kakak dan adiknya besok tetap lebaran, sedangkan ayah-ibunya mengikuti program pemerintah… Ga.. usah risau teman… bersyukurlah kalau kita bisa berlebaran 2 x dalam satu bulan… Andai presidennya Jusuf Kalla mungkin lain terjadi.. karena slogan dia.. LEBIH CEPAT LEBIH BAIK..

Wallahualam.

AdE JoHAr MaTUrIDi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s