SAAT SEBUAH KARYA TAK DAPAT TERPERSEMBAHKAN

Ini merupakan cerita pengalaman dari sahabat saya di Kalimantan yang besebelahan dengan negara malaysia. Saya tidak tau pércis ceritanya, akan tetapi dari penuturan belau bahwa ada bebarapa pengrajin tikar yang terbuat dari rotan dan kulit kayu. Setiap hari warga tersebut membuat tikar tanpa motif dan bermotif. Banyak motif memang dalam pembuatan tikar tersebut.

Untuk pembuatan tikar membutuhkan waktu paling sedikitnya 5-7 hari itu juga tergantung dari ukuran yang akan mereka buat.  Semua itu dikerjakan disaat-saat santai sebagai pekerjaan sambilan.

Saya terkejut ketika ternyata mereka menjual hasil karyanya ke Negara sebelah yaitu Malaysia. Ini disebabkan jarak yang sangat jauh sehingga membutuhkan waktu yang begitu lama apabila dijual ke kota dan keuntungan yang diperoleh sangat kecil. Bisa juga jika dijual ke kota bukannya untung malah bisa jadi rugi besar.

Saya tidak habis pikir lagi ternyata tikar buata mereka diberi label MADE IN MALAYSIA. Ini sangat memukul hati saya, rasanya kita terjajah oleh bangsa kita sendiri karena kebodohan dank arena uang semata.

Mungkin ini hanya sebagian kecil saja masyarakat kita yang berdekatan dengan Negara Malaysia berbuat semacam itu. Bisa jadi banyak macamnya, dan itu baru yang saya ketahui…

Bukan main… ternyata memang kita masih belum bisa menghargai hasil jerih payah karya seseorang.

Baru sebulan cerita tersebut tersampaikan, ternyata aku sendiri mendapatkan masalah dari hasil jerih payahku dalam berkarya. Entah bagaimana hasil karyaku selama ini selalu menjadi tolak ukur yang signifikan ternyata tidak dihargai dengan sebagaimana mestinya. Dengan bersusah payah saya mencoba membuat karya tersebut menjadi persembahan yang terbaik untuk bisa dinikmati oleh orang banyak ternyata hancur ga karuan.

Andai saya tahu bahwa itu akan terjadi maka mahakarya itu tidak akan aku bagikan untuk dinikmati oleh siapapun dan dihargai berapun itu harganya aku pasti akan menolaknya.  Akhirnya terbesit dibenakku untuk menjual hasil karyaku kepada Negara lain sama seperti halnya cerita diatas tadi. Mungkin aku akan kaya raya, tetapi hargadiri sebagai bangsa akan seperti apa nanti?

Hasil karyaku dari mulai SLTP di tingkat 1 dengan membuat bel dari kumparan (lilitan kabel) yang aku gulung sendiri sehingga bisa dipergunakan dirumah, sehingga jika ada tamu masuk maka terdengar el tersebut walau hanya dengan bunyi “TET”. 3 bulan kemudian aku mencoba membuat piano kecil dari potongan kaleng bekas dan diberikan sebuah rangkaian elektronika sehingga piano tersebut suaranya tidak beda jauh dengan mainan piano-pianoan di took mainan. Ayah ibuku hanya tersenyum melihat hasil karyaku yang begitu unik.

Naik dikelas 2 SLTP aku mencoba membuat radio dengan mengunakan rangkaian elektronika yang aku rakit sendiri yang hanya dipasang triplek sebagai alasnya. Ternyata radio itu sangat ampuh dan sinyalnya lebih bagus dalam menangkap gelombang. Akan tetapi ibuku ketakutan jika salah tekan tombol, terlebih takut tersetrum karena rangkaia tersebut terbuka adanya. Semester berikutnya masih dikelas 2 SLTP saya mencoba mambuat sebuah walky-talky yang begitu sederhana sehingga karyaku selalu dipergunakan oleh teman-temanku untuk kegiatan pramuka apalagi disaat kemah bersama. Kelas 3 aku sudah dapat membuat Amplifier dan sebuah TV hitam putih. Kesemunya tak lepas peran guruku yang selalu menghargai hasil karyaku dan selalu memotifasi dalam hal berkarya.

STM membuat aku lebih nyaman dalam hal berkarya dalam dunia industry. Dari membuat Pemberat, Palang sejajar, Penggaris siku bergerak kesemuanya aku buat sendiri dan hasil karyaku aku pasang dikamarku. Ayah ibuku hanya geleng-geleng kepala saja.

Hingga saat ini hasil karyaku mulai dari harga  ….  sampai dengan 10 rb masih ada.  Aku bangga akan hal ini. Tetapi hari ini kesemuanya hancur berantakan karena karyaku yang pada awalnya hanya untuk membantu dalam proses perbaikan manajemen dipandang terbalik oleh sebagaian kalangan. Andai aku tau semua itu tak akan pernah aku lakukan. Biarkan kesemuanya hancur tak berkeping. Tidak kah mereka tau apa yang aku lakukan bukan semata-mata karena harta. Aku berkarya cukup dengan berkata “terima kasih’ pun aku sudah lega rasanya.

Sudahlah… mungkin ditempat lain hasil karyaku akan lebih bermanfaat tanpa harus dicaci atau dihargai begitu banyak oleh kalangan mereka.

“Mungkin ini saatnya kamu berbenah diri…, terus tetap berkarya walau orang tidak menerima hasil karyamu dengan sepenuh hati…” jawab istriku.

Ya… aku memang harus tetap berkaya walau karyaku malah tambah tidak jelas arahnya. Ini adalah bagian dari hidup. Aku masih lebih besemangat lagi karena didepan sudah ada proyek pembuatan yang berkenaan dengan dunia IT yang aku lakoni selama ini.

Kata mutiara

  • Jangan putus asa oleh seseorang yang jelas tidak menghargai karyamu, mungkin karena mereka tidak mengerti apa yang sudah kamu lakukan dalam berkaya.
  • Ketika Tuhan memberimu masalah, Dia tahu bahwa kamu pasti bisa melaluinya. Mungkin akan ada luka, tapi itu semua buatmu dewasa
  • Tidak perlu memfokuskan memikirkan orang yg membenci kita, karena masih banyak org yg menyayangi kita. 
  • Setiap orang berbeda, unik dengan caranya. Kamu harus menghargainya, tapi tak berarti kamu harus menyukai semuanya.

 

 

 

 

2 pemikiran pada “SAAT SEBUAH KARYA TAK DAPAT TERPERSEMBAHKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s