TUJUH KEBOHONGAN AYAH

Ayah….

Mengapa engkau berbohong kapadaku…

Mungkin ayahku banyak seklai berbohong kepadaku… entah berapa banyak.. yang kuingat ada 7 kalinya… saya akan bercerita kebohongan ayahku..
Kebohongan ayah yang PERTAMA

Keluarga kami memang tidak kaya. Terkadang kami kelaparan selama beberapa hari. Ketika aku masih kecil saya terkadang marah dan cemberut kadang malah menangis jika lauk yang akan saya makan tidak enak. Tapi ayahku dengan tersenyumnya dia memindahkan lauk dan nasinya kedalam piring saya sambil berkata” Makanlah nak… ayah tidak lapar…”

Kebohongan ayah yang KEDUA

Ketika saya mulai dewasa, ayah terkadang memancing lalu memasaknya. Terkadang hasil memenacing itu tidak banyak. Ikan bakar itu diberikannya kesaya lalu saya memberikan salah satu ikan itu kepada ayah. Ayah menolaknya dan berkata,”Makanlah, Aku tidak suka ikan.”

Kebohongan ayah yang KETIGA

Menginjak dewasa aku masuk sekolah menengah. Ayah biasa bekerja sebagai buruh pabrik malamnya menjahit pakaian sebagai tambahan uang saku saya. Pada suatu malam dini hari pukul 02.00 saya melihat ayah sedang menjahit ditemani lilin didekatnya. Beberapa kali saya melihat kepala ayah mengangguk-angguk menahan kantuknya, lalu saya berucap “Ayah tidurlah, besok ayah harus bekerja juga di pabrik..”. Ayah tersenyum dan berkata : “Sudahlah nak, kamu yang tidur, kan besok sekolah, Ayah belum ngantuk.”
Kebohongan ayah yang KEEMPAT.

Pada saat aku ujian akhir, ayah sengaja tidak bekerja seperti biasanya dipabrik. Ayah menemaniku kesekolah serta menyemangati dalam ujian tersebut. Maklum jika aku sampai gagal ujian maka aku harus mengulangnya tahun depan. Siang yang panas dan matahari menyinari sinarnya dengan bangganya aku melihat ayah masih tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada allah agar saya lulus ujian dengan sukses. Akhirnya bel tanda selesai ujian berbunyi, ayah dating dan menyambut saya dan menuangkan the manis yang sudah disiapkan dalam botol kemasan. The manis tersebut terasa nikmat sekalli memang jika dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih manis. Melihat ayah yang begitu setia menemaniku saat ujian tadi, terlihat badan ayah yang penuh dengan keringat membasahi kaosnya yang lusuh, segera saya menawarkan air teh tersebut untuk ayah minum juga. Tapi ayah menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ayah tidak haus!!”
Kebohongan ayah yang KELIMA.

Kakaku setelah selesai sekolah lalu bekerja disebuah perusahaan swasta yang begitu besar. Pengahsilannyapun besar. Alhamdulillah keadaaanku menjadi membaik dengan bantuan kehidupan dari penghasilan kakaku. Hingga pada suatu hari kakakku berkata kepada ayah agar tidak lagi bekerja dipabrik dan dia memberikan sebagian gajinya kepada ayah. Tapi sang ayah menolaknya dan dia berkata, “Jangan nak, ayah masih punya uang, kamu lebih membutuhkannnya nanti.”
Kebohongan ayah yang KEENAM.

Setelah lulus aku mendapatkan beasiswa ke kota besar yaitu Jakarta dan akupun bekerja disebuah perusahaan besar dijakarta. Akhirnya akupun membeli sebuah rumah yang agak besar untuk membawa ayahku ke rumahku agar mengurangi penderitaan ayahku. Tetapi ayahku menolak ajakan saya. Ayah tidak mau menyusahkan dengan berkata ; “Tidak nak, Ayah tidak bisa tinggal di daerah orang.”-

Kebohongan ayah yang KETUJUH.

Beberapa tahun berlalu, Ayah sakit dan tidak mau makan. Setelah dibawa kerumah sakit dan dicek dilab penyakit ayah adalah ada batu di empedunya. Saya melihat ayah terbaring lemah di rumah sakit, Ayah tidak mau dioperasi. Dia ingin pulang kerumah saja aku menolaknya. Pada saat itu aku ditelp oleh perusahaan untuk kembali kekantor karena ada tugas yang harus dikerjakan maka aku terpaksa meninggalkan ayah dirumah sakit dan dijaga oleh adikku. Disaat itulah ayahkku minta pulang paksa, hingga adikku tidak dapat mencegahnya karena ayahku tergolong keras kepala. Ayahpun pulang dengan menggunakan taksi kerumah tanpa sepengetahuanku.

Dua Hari itu saya dijakarta untuk menyelesaikan tugasku lalu kembali lagi ke kampungku untuk melihatkeadaan ayah. Turun dari kereta saya langsung ke rumah sakit ternyata ayah tidak ada. Saya langsung menuju rumah dan kedapatan ayah sedang melihat-lihat sawahnya.  Saya hanya geleng-geleng kepala saja, dia berkata,” Aku tidak sakit nak, aku hanya butuh istirahat sebentar.”

Selang beberapa hari penyakitnya kambuh lagi, kali ini agak berat lalu dibawanya ke rumah sakit. Dokterpun sudah angkat tangan. Ayah meminta untuk pulang kembali dan akhirnya kami bawa ayah kerumah.

Hari Jum’at pukul 11.00 saya berangkat untuk sholat jum’at. Aku melihat ayah tidur dengan muka pucat dan lemahnya diapun berkata “Jangan menangis nak, ayah tidak sakit… nanti juga sembuh..”.

Setelah mengucapkan pembohongan yang ketujuh itu, Ayah tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak-anaknya.

Beruntunglah bagi mereka yang masih masih mempunyai orangtua… masih bisa memeluk dan menciumnya. Kalau orangtua jauh dari mata, kita dapat menelponnya sekarang, dan berkata, “Ibu/Ayah, saya sayang ibu/ayah.” Tapi saya tidak dapat melakukan itu, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ayah, sampailah saat ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ayah, maafkan saya. Saya sayang ayah…


Titip Rindu Buat Ayah

Di matamu masih tersimpan
Selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat
Di keningmu

Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah ehemm

Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

reff
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk ehemm

Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

 By. Jo

Satu pemikiran pada “TUJUH KEBOHONGAN AYAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s